10 Hal Tak Terduga Mampu Rusak Hubungan Anda
Tuesday, 17 June 2014
10 Hal Tak Terduga Mampu Rusak Hubungan Anda

LUANGKAN waktu untuk pasangan, tunjukkan apresiasi Anda, katakan hal-hal yang lebih positif daripada negatif, dan jaga jalur komunikasi tetap terbuka dengannya. Teori selalu lebih mudah daripada prakteknya.

Sebagian besar dari kita hapal luar-dalam tentang aturan hubungan tersebut. Namun, para peneliti telah memunculkan banyak faktor tidak begitu jelas yang dapat membantu atau menyakiti pasangan satu sama lain, seperti disitat Womansday berikut ini.

Terlalu banyak kekuasaan
Peneliti menemukan bahwa pasangan yang lebih berpengaruh dari pasangan lain sebenarnya kurang merasa puas. Pasalnya, sekarang semakin banyak orang yang menghargai kesetaraan dalam hubungan, Anda berdua harus berkompromi. Jika Anda selalu tunduk kepada pasangan ketika membuat keputusan bersama, mulailah memiliki pendapat sendiri; jika Anda orang yang biasanya memutuskan sesuatu, mulailah memberi kesempatan pada pasangan.

Memertentangkan kenangan peristiwa penting
Menurut studi DI tahun 2013, pasangan yang mengingat masa lalu mereka secara berbeda memiliki hubungan yang lemah. Bicaralah tentang hal-hal yang penting bagi Anda; jangan menganggap bahwa hal yang Anda rasakan juga dirasakan olehnya, kata Sarah Halpern-Meekin, PhD, profesor di University of Wisconsin-Madison.

Harapan yang tidak realistis
Mengharapkan yang terburuk dari hubungan jelas tidaklah sehat, tetapi menjadi terlalu optimis juga bisa menjadi bumerang. Studi pada tahun 2013 menemukan bahwa orang-orang dengan harapan yang terlalu tinggi lebih sering kecewa dalam tahun pertama pernikahan dibandingkan mereka yang memiliki harapan lebih realistis.

"Tidak ada hubungan yang sempurna, dan memegang harapan yang sangat optimis sering menyebabkan kekecewaan," kata Lisa Neff, PhD, profesor di University of Texas di Austin.

Menjadi tumpuan
Studi baru menemukan bahwa terlalu diidolakan juga tidak membuat Anda bahagia. Sebaliknya, Anda akhirnya merasa bahwa pasangan tidak benar-benar melihat Anda apa adanya. Ada juga tekanan tambahan untuk hidup sesuai dengan pandangan ideal mereka tentang Anda, ini membuat Anda merasa tidak nyaman.

Tidak merasakan cinta untuk diri sendiri
Dalam suatu studi, menyayangi diri sendiri adalah prediktor kuat dari perilaku hubungan positif menghargai diri sendiri. Penelitian lain menemukan bahwa memiliki kasih sayang terhadap satu sama lain membuat hubungan menjadi lebih kuat sedangkan berusaha terlihat baik di mata orang lain membuat hubungan melemah. Mengkhawatirkan segala sesuatu dengan bagaimana penampilan Anda akan memunculkan perasaan persaingan, kebingungan, dan ketakutan menunjukkan perasaan kerjasama dan cinta.

Tidak berdoa
Pasangan yang berdoa setelah perselisihan ternyata lebih bahagia, menurut sebuah studi baru-baru ini. Ketika pasangan saling mendoakan, mereka lebih mungkin mengalami ikatan dan rasa koneksi yang lebih kuat. Namun, jika Anda tidak suka berdoa, cobalah meditasi di mana Anda menginginkan kebahagiaan pasangan Anda.

Tidak cukup usil
Para peneliti percaya orang yang penasaran lebih cenderung melihat situasi yang dapat menyebabkan stres sebagai tantangan, bukan ancaman. Mereka juga komunikator yang lebih baik, lebih fleksibel, dan lebih terbuka untuk solusi baru. Ketika ada masalah, mereka akan berhenti sebelum bereaksi dan berpikir bagaimana mengubah konflik menjadi kesempatan sempurna dengan melakukan pendekatan yang berbeda untuk masalah yang sama.

Mengirim pesan terlalu banyak
Para peneliti di University of North Carolina di Wilmington menemukan bahwa ketika pasangan berkomunikasi melalui teks lebih sering daripada secara langsung atau melalui telepon, mereka cenderung kurang puas dalam hubungan mereka.

Berpikir berlebihan
Sebuah studi pada 2013 menemukan bahwa jika Anda berpikir sepanjang waktu tentang seberapa dekatkah Anda dengan pasangan, Anda tidak akan punya waktu untuk benar-benar menjadi dekat. Biarkan pengalaman dan perasaan yang muncul seiring berjalannya waktu terungkap secara alami, tanpa paksaan.

Kesopanan sudah mati?
Para peneliti menemukan bahwa wanita yang berharap menjadi tumpuan lebih mudah kecewa selama hubungan memasuki masa-masa sulit. Ingat, beberapa konflik tergolong sehat dan jangan biarkan pandangan masyarakat menentukan cita-cita pernikahan Anda, kata Matthew Hammond, kandidat PhD di University of Auckland, Selandia Baru.

(okezone)