Frankfurt Book Fair 2015 Day 3: Dongeng Impian Anak Indonesia & Sajak Lokal Mendunia di Ajang Book Fair Kelas Dunia
Frankfurt Book Fair 2015 Day 3: Dongeng Impian Anak Indonesia & Sajak Lokal Mendunia di Ajang Book Fair Kelas Dunia

Di hari ketiga penyelenggaraan Frankfurt Book Fair 2015 di Frankfurt Messe Jerman, book fair yang menjadi pusat jual beli hak cipta buku seluruh dunia ini semakin lengkap dengan berbagai diskusi dan aktivitas yang menarik perhatian masyarakat Eropa. Dua diskusi yang ramai dipadati oleh pengunjung adalah Origami & rope story telling oleh Ibu Murti Bunanta & Teti Elida serta Diskusi umum "Fictional Islam" bersama dengan penulis kenamaan Andrea Hirata dan A. Fuadi.

 

Murti Bunanta adalah seorang ahli sastra anak yang sudah mengabdi selama 28 tahun untuk dunia pendidikan anak di Indonesia, mempunyai misi untuk menjadikan anak - anak gemar membaca lewat bacaan berkualitas, sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada anak - anak di negara lain. Melalui Frankfurt Book Fair, Ia yang didapuk menjadi penanggung jawab area Island of Tales membawa serta beberapa buku dari ratusan karya miliknya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, termasuk bahasa Jerman, yaitu "Indonesian Folktales" yang berisi 29 cerita rakyat dari 22 provinsi di Indonesia serta "Putri Kemang" yang berkisah tentang petualangan seorang putri cantik yang pemberani karena sejak kecil telah dididik layaknya seorang prajurit.

Melalui aktivitas yang digelar sejak pukul 10 pagi waktu setempat ini, Murti Bunanta dan Tety Elida - Ketua & Wakil Ketua kelompok Pecinta Bacaan Anak Indonesia memperkenalkan aktivitas pembacaan dongeng yang tidak biasa, yaitu melalui origami dan penggunaan medium kertas untuk memperjelas isi cerita. "Kami ingin memperkenalkan cara membaca cerita yang 'lain'; ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua bahwa aktivitas membaca bisa disalurkan melalui medium apapun, termasuk origami dan kreativitas lainnya. Masyarakat Eropa sangat tertarik denngan aktivitas ini, bahkan salah satu dari pengunjung pagi ini mengungkapkan ketertarikannya kepada cerita – cerita anak dan legenda Indonesia yang beragam." Lebih lanjut Ibu Murti menambahkan bahwa Ia optimis dengan dunia sastra anak di Indonesia belakangan ini, yang semakin marak dengan bertambahnya jumlah penulis buku anak. "Tetapi jangan lupa untuk tetap memperhatikan kualitas cerita dan pesan moral yang ingin disampaikan melalui cerita. Tekankan pada kualitas   cerita anak dan ilustrasi yang bermutu, sehingga karya kita akan lebih mudah untuk diperkenalkan ke dunia internasional melalui ajang jual beli hak cipta buku seperti ini (Frankfurt Book Fair).", ujarnya menutup pembicaraan.

 

Sementara itu pada jam yang berbeda pukul 2 siang waktu setempat, area teater Island of Scenes dipenuhi penggemar dan kalangan media internasional yang ingin menyimak diskusi "Fictional Islam" bersama Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi dan A. Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara. Topik bahasan yang menarik siang itu adalah bagaimana pendidikan dan mimpi, masih menjadi senjata ampuh untuk melawan kemiskinan dan perubahan nasib hidup seseorang, khususnya masyarakat Indonesia. Dari sudut pandang agama, novelis A. Fuadi berbagi cerita mengenai pengalamannya menempuh pendidikan di pondok pesantren Gontor: kebudayaan dan tradisi sekolah Islam di Indonesia. Melalui buku dan film Negeri 5 Menara yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan Jerman, pengalaman hidup Alif Fikri dianggap mampu menarik perhatian masyarakat Eropa untuk lebih mendalami tradisi - tradisi unik selama menempuh pendidikan di sekolah berbasis Islam di negara dengan penduduk mayoritas pemeluk agama Islam, Indonesia.

"Ini adalah sebuah pengalaman unik bagi mereka (para pembaca dunia) masuk ke dalam cerita dan melihat bahwa ternyata kehidupan di dalam pesantren adalah hal baru yang menyenangkan dan menarik; hal yang tidak pernah mereka pahami sebelumnya.", Fuadi menjelaskan.

 

Sementara Andrea Hirata menjelaskan kembali pentingnya isu pendidikan dan mimpi yang sekaligus menjawab pertanyaan mengapa Tetralogi Laskar Pelangi menjadi buku best seller dan berhasil diterbitkan ke dalam 34 bahasa asing. Kehidupan Ikai dan kawan - kawan saat menjalani masa pendidikan sekolah Muhammadiyah di Belitung menjadi daya tarik kuat bagi pembaca untuk menyelami kisah - kisa tradisi yang begitu kental dengan nuansa Indonesia. Project terbaru Andre, novel "Ayah" yang baru saja diterbitkan pada bulan Mei 2015 juga akan tertulis sebagai pencapaian terbaru baginya karena akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dalam waktu dekat. Novel yang bercerita tentang cinta Sang Ayah kepada anak yang bukan darah dagingnya sendiri ini memerlukan waktu 6 tahun dalam proses penggarapannya. Mengenai event Frankfurt Book Fair Andrea dan A. Fuadi menjelaskan bahwa penting bagi penulis untuk berada di sini, "Industri buku ini sangatlah besar dan luas. Memang, di event ini penulis bukanlah sorotan utama selain agen buku dan publishers. Tapi melalui Frankfurt Book Fair dan kesempatan Indonesia menjadi tamu kehormatan tahun inilah penulis - penulis Indonesia bisa memperkenalkan dirinya ke kancah internasional dan menyadari bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengharumkan nama bangsa, salah satunya melalui jalur sastra.".

Satu lagi diskusi menarik yang diadakan di hari ketiga penyelenggaraan Frankfurt Book Fair 2015, Island of Scenes kembali dipadati oleh pembaca dan pengunjung yang ingin bernostalgia dengan puisi dan karya dua orang penulis senior Indonesia, Toeti Heraty & Sapardi Djoko Damono dalam diskusi bertajuk "Modern Literary of Indonesia".  Wanita berusia 81 tahun yang dijuluki sebagai "satu - satunya wanita diantara penyair kontemporer terkemuka di Indonesia" ini bahkan tercatat telah menuliskan karya puisi pertamanya sejak tahun 1971 melalui "Sajak - sajak 33". Sementara Sapardi Djoko Damono sampai saat ini telah menuliskan lebih dari 20 karya sastra, salah satu diantaranya adalah karya yang telah diterjemahkan oleh J.H. McGlynn, "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono". Keduanya berdiskusi mengenai karya sastra dan tren literasi di Indonesia masa kini yang dianggap menyingkap banyak makna dalam penulisan karyanya; tidak lugas dan memiliki cabang definisi terselubung; termasuk sesi pembacaan puisi yang diambil dari karya keduanya.

 

Nathalie Indry

V Radio 106.6 FM Announcer

V Book Club