Frankfurt Book Fair 2015 Day 4: Literasi Indonesia di Mata Dunia
Frankfurt Book Fair 2015 Day 4: Literasi Indonesia di Mata Dunia

Di hari ke empat penyelenggaraan Frankfurt Book Fair tahun ini dengan Indonesia ditunjuk sebagai tamu kehormatan, beberapa penulis yang karyanya terpilih untuk diterjemahkan ke dalam bahasa asing mendapatkan kesempatan untuk menerbitkan bukunya di National Stand of Indonesia maupun di Paviliun Indonesia. Diantaranya, Yoris Sebastian dengan bukunya "Oh My Goodness, A Personal Guide to Become a Creative Junkies", Wahyu Aditya dengan bukunya "Fun Cican, Play & Learn", dan juga penulis buku anak Arleen Armidjaja dengan digital booknya "The Fisherman's Daughter". Menurut Arleen, kesempatan buku anak Indonesia di pasar internasional sebetulnya masih terbuka lebar. Karyanya sendiri yang dipamerkan pada event ini diambil dari ratusan karya yang telah dihasilkannya: "Book of Bunnies", "Dreamlets", "I Love You Mom", dan "Ally" yang sudah diterbitkan dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan Indonesia, untuk kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman. Pagi ini, Arleen mengundang khalayak ramai untuk bersama - sama menyaksikan peluncuran buku versi digital terbarunya di area Island of Inquiry. Buku ini bercerita tentang kisah seorang anak perempuan bernama Nina yang harus bekerja keras mengerjakan pekerjaan rumah karena Ibunya telah meninggal. Ia pun hidup berdua dengan Sang Ayah. Kisah petualangan Nina ini dihadirkan dalam bentuk  feature dan animasi dalam setiap halamannya. Selain itu, "The Fisherman's Daughter" juga dilengkapi dengan Parents Guide, yang dapat membantu orang tua menentukan jenis buku yang bisa dikonsumsi untuk anak - anak sesuai dengan rentang usianya. Nantinya, digital book ini akan bisa diperoleh di seluruh digital dan andorid store yang tersedia di Indonesia.

Sementara di National Hall pada jam yang berbeda, sebuah diskusi yang hangat dipenuhi oleh para pembaca dan pengunjung event dengan topik "Women and the City" bersama dua orang penulis best seller Dewi Lestari, penulis novel "Supernova" dan Ika Natassa, penulis novel "Twivortiare". Keduanya dianggap mampu mewakili pemikiran wanita & problematika yang banyak ditemui generasi saat ini. Dewi Lestari yan menggabungkan science dan fiction ke dalam nuansa karyanya mengaku selalu memberikan bumbu- bumbu problematika saat ini ke dalam tulisannya, sharing tentang proses pembuatan karakter setiap tokoh dalam novelnya, serta membacakan bagian scene dalam bukunya, "Supernova". "Proses menulis yang saya alami adalah pembelajaran seumur hidup. Writing is like building your muscles.", ujarnya. Sementara Ika Natassa bercerita tentang proses produksi dan pembentukan karakter novel yang tidak hanya bermodalkan fiksi, tetap juga merupakan hasil riset dari karakter - karakter masa kini yang 'nyata' ada di kehidupan sehari - hari. Sesi diskusi ini mendapatkan perhatian pengunjung dari berbagai kalangan, terutama para penggemar Dee dan Ika yang datang dari sekitar wilayah Eropa. “Untuk penulis – penulis Indonesia yang karyanya ingin dikenal di dunia internasional, pastikan konten dan isi cerita yang kita tulis sudah cukup berkualitas. Menangkan dulu pasar nasional, baru kemudian kita sama –sama berkonsentrasi untuk memperkenalkan karya ke pasar internasional. Tahun ini sebagai tamu kehormatan, beruntung sekali kita penulis – penulis Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan kelompok publishers yang datang dari seluruh penjuru dunia. Tidak hanya itu, event ini juga menjadi panggung bagi kita untuk memperkenalkan budaya bangsa.”, ujarnya.

Sore harinya, selain pertunjukan Opera Gandari yang diadakan di gedung pertunjukan Frankfurt Lab  yang merupakan gabungan antara seni sastram musik kontemporer, tari dan tata rupa berdasarkan puisi berjudul 'Gandari' karya Goenawan Mohamad, area Island of Scenes kembali diramaikan oleh pengunjung dengan hadirnya dua penulis wanita Indonesia yang menyita perhatian publik Eropa sepanjang event berlangsung, Leila S. Chudori, penulis buku "Pulang" yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman, serta Laksmi Pamuntjak, penulis buku "Amba" yang telah diterjemahkan ke dalam 3 bahasa: Inggris, Belanda, dan Jerman. Kedua novel ini mempunyai kesamaan, yaitu mengangkat kisah korban kekerasan era 1965 ke dalam cerita fiksi yang dibumbui kisah romansa dan pergulatan batin masyarakat Indonesia saat itu. Diskusi berlangsung menarik. Bahkan beberapa audience dari kalangan penonton ikut menyuarakan pendapatnya tentang nasib korban kekerasan yang sampai hari ini belum bisa pulang kembali ke Indonesia karena stigma negatif yang menempel pada diri mereka dan seluruh keluarganya. “Sebetulnya bukan hanya saya dan Laksmi yang menulis tentang tragedi 1965; karena sejak jaman reformasi, banyak sekali orang lain  yang juga sudah menulis tentang hal yang sama. Saya rasa kenapa sejarah kelam sebuah negara sangat menarik untuk diselami dari sebuah buku adalah karena kita dan Eropa punya banyak kesamaan, ya. Termasuk masalah sejarah negara yang kelam. Pembaca di Eropa lebih memahami, there are certain similarity antara negara kita dengan mereka.”, Leila Chudori menutup pembicaraan. Dan  di hari ke 4 ini, Book Fair resmi dibuka untuk masyarakat umum. Dengan begitu banyaknya pihak yang antusias dengan kegiatan ini, semakin besar harapan kita untuk lebih mudah memperkenalkan budaya dan tradisi yang beragam kepada khalayak Eropa.

Nathalie Indry

V Radio 106.6 FM Jakarta

V Book Club