Hal Sepele Ini Bisa Jadi Bentuk Kekerasan Anak
Thursday, 22 October 2015
Hal Sepele Ini Bisa Jadi Bentuk Kekerasan Anak
KEKERASAN pada anak tidak hanya berupa perlakuan fisik. Ada hal sepele lainnya bisa dikategorikan kekerasan. Lantas, hal sepele apa yang dikatakan kategori kekerasan pada anak?
 
Orangtua sering kali mengabaikan hak bermain anak. Kebanyakan dari mereka hanya berfokus pada hak anak dalam mendapat pendidikan dan kesehatan.
 

Demikian dikatakan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait dalam Workshop "Deteksi dan Penanganan Kekerasan Anak". Padahal, hak bermain merupakan hak fundamental yang perlu didapatkan anak.

"Pertanyaan yang bisa dilontarkan orangtua ketika pulang kerja atau bertemu anak biasanya seputar, "Sudah makan belum, sudah kerjain PR belum, sudah tidur belum? Sudah belajar belum?" Jarang sekali ada yg bertanya sudah bermain belum? Padahal, itu adalah hak anak," ucap Arist dalam pemaparannya di RS Jiwa Soeharto Grogol, Kamis (22/10/2015).

Menurutnya, tanpa disadari, itu adalah bentuk kekerasan orangtua terhadap anak. Meski bentuknya perhatian tapi, ada tekanan dalam pertanyaan tersebut. Anak jadi takut kalau mereka belum melaksanakan kewajiban. Segala sesuatu yang berbentuk paksaan dan tekanan masuk dalam kategori kekerasan.

"Bayangkan, batapa senangnya anak kalau ditanya, sudah main belum? Inilah yang perlu diketahui orangtua. Contoh lainnya adalah memaksa ingin mencium anak, apalagi kalau anak menghindar kemudian ditarik untuk mencium. Meski itu anak sendiri tetap tidak boleh dipaksa. Ini ada undang-undangnya."

Arist menambahkan, anak adalah titipan, amanah,dan anugerah. Kalau ini disadari, maka tidak ada yang berani melakukan kekerasan dalam bentuk paksaan pada anak. Orangtua begitu karena mereka merasa memiliki.

(okezone/vin)