Cara Menjelaskan pada Anak tentang Terorisme
Tuesday, 24 November 2015
Cara Menjelaskan pada Anak tentang Terorisme

SERANGAN terorisme di Paris pekan lalu menjadi topik mengerikan yang dibahas di televisi dan lingkungan. Sebagai anak-anak yang hidup di era digital, mereka pasti mengetahui peristiwa tersebut.

Seperti halnya curahan hati seorang ayah dalam video “"Le Petit Journal", ia menceritakan anaknya yang takut dengan senjata api, tidak tenang, dan bingung. Terlebih mereka mempertanyakan citra Arab. Sudah jelas terorisme memengaruhi psikologis anak-anak.

Lantas, penjelasan apa yang bisa diberikan orangtua untuk mengatasi ketakutan mereka? Berikut tips sederhana untuk meredam ketakutan anak.

Jelaskan sesuai usia

Anak usia SD biasanya trauma melihat gambar menakutkan. Oleh sebab itu, American Academy of Pediatrics menyarankan agar orangtua membatasi anak mengakses media massa. Jangan ikutsertakan anak masuk dalam percakapan orang dewasa.

Sementara, pada anak usia remaja, mereka butuh penjelasan lebih. Maka, jadikanlah fakta dan tidak memihak. Akui kalau Anda sedih dan kita bisa berbuat sesuatu untuk menghentikan terorisme.

Banyak mendengar

Orangtua harus lebih mendengar ketakutan anak, jangan banyak bicara. Obati ketakutan anak dengan memberi informasi yang lebih menyenangkan. Jangan takut tidak bisa menjawab pertanyaan anak dengan menyuruh dia diam. Jawablah dengan, “Ibu tidak tahu, tapi yang pasti aku mencintaimu dan tugasku mengurusmu.”

Jangan berprasangka

Sangat mudah mendoktrin anak tentang kebenaran dan kesalahan. Namun, orangtua cerdas tidak membiarkan anak menelan informasi tidak fakta. Jelaskan pada mereka, tindakan ekstrim yang dilakukan orang-orang tidak mewakili agama, ideologi, negara, atau budaya apa pun.

Ketika bicara terorisme pada anak, hati-hati mengategorikan sesuatu, dampaknya dapat menimbulkan kebencian anak pada orang-orang tertentu. Jika ingin mengubah dunia, kita harus membesarkan anak-anak dengan cerdas, rasional, hati-hati dan pikiran penuh kasih.

Aktif tidak reaktif

Berdayakan anak-anak dalam melihat dunia lewat sudut pandang yang baik. Biarkan mereka melihat bagaimana sukarelawan bekerja dan orang-orang tertimpa musibah tabah, dan lain sebagainya. Demikian dikutip Familyshare, Senin (23/11/2015).

(okezone/vin)