The Hunger Games: Mockingjay Part 2
Tuesday, 24 November 2015
The Hunger Games: Mockingjay Part 2

Babak pertama seri pemungkas The Hunger Games yang diberi tajuk Mockingjay harus diakui berakhir mengecewakan dengan segala propaganda politik membosankan. Tentu saja kita tidak bisa berharap banyak ketika babak pemungkasnya yang semestinya bisa menjadi klimaks besar dari perjalanan franchise sci-fi YA populer milik Suzanne Collins harus rela di belah menjadi dua bagian, latah mengekor franchise-franchise besar lainnya yang sebelumnya terlebih dahulu melakukannya dengan dalih agar bisa mengeksplorasi lebih dalam sumber aslinya meski kenyataan di lapangan semua kembali ke alasan lebih banyak Dollar yang bisa diraup.

Jika babak pertamanya  murni bermain-main dengan propaganda perang dan politik via media televisi antara pihak Capitol pimpinan Presiden Snow (Donald Sutherland) dan kubu pemberontak yang dikomandoi President Alma Coin (Julianne Moore), Mockingjay part 2 bisa dibilang benar-benar menjadi sebuah war movie, meski tidak benar-benar menghadirkan perang besar-besaran, setidaknya apa yang terjadi di part-2 nya sedikit lebih baik, setidaknya bagi penonton yang mencari banyak aksi, Mockingjay Part 2 memberi lebih banyak keseruan dari sekedar nyanyian The Hanging Tree-nya Katnis.

Menyambung langsung dari bagian pertamanya, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) kini berada di ujung peperangan besar. Misinya membunuh Snow sudah bulat terlebih setelah apa yang sudah dilakukan presiden lalim itu terhadap Peeta Mellark (Josh Hutcherson) yang nyaris membunuhnya. Bersama bantuan pasukan elit pemberontak, sang Mockingjay berangkat menuju medan akhir, melintasi pinggiran Capitol yang dipenuhi banyak pods (jebakan) maut yang disebar di sepajang jalan. Ancamannya tentu saja besar, dari sekedar semburan api, terjangan senapan mesin, ranjau darat, bajir cairan hitam mematikan sampai serbuan para mutan ganas di gorong-gorong bawah tanah. Tetapi apapun rintangannya, Katniss tahu bahwa ia harus menyelesaikan ini untuk selamanya.

Memang Part-2 nya harus diakui lebih menghibur dengan segala rentetan aksi yang lebih banyak, tetapi ini sebenarnya masih seri yang sama lemahnya dengan babak pertamanya, jauh sensasinya dibanding apa yang pernah dihadirkan seri pertama The Hunger Games apalagi bagian terbaiknya di Catching Fire. Mungkin bukan sepenuhnya salah Francis Lawrence atau duo penulisnya;Peter Craig dan Danny Strong, mungkin ini juga salah Suzanne Collins yang tidak menyediakan sebuah konklusi yang dahysat untuk menutup trilogi kesayangannya hingga berimbas pada versi adaptasi filmnya yang kurang greget untuk sebuah seri pemungkas. Memang ada sebuah penutup yang dicari oleh penontonnya sejak 7 tahun silam, tetapi bagaimana menuju ke sana mungkin gagal dihadirkan secara mengesankan, bahkan kamu dengan mudah menebak kejutan yang hadir ketika momen The Hunger Games baru dikumandangan Presiden Coin. Apa yang terjadi di 20 menit akhir terkesan sangat terburu-buru, ini jelas ironis mengingat dua seri yang berselang satu tahun dihabiskan untuk bisa menjelajahi novel terakhirnya dengan lebih maksimal, tetapi yang terjadi di lapangan tetap saja tidak pernah terjadi.