Brush with Danger
Wednesday, 02 December 2015
Brush with Danger
Dua bersaudara asal Asia Timur, Qiang Ken (Ken Zheng) dan Qiang Alice (Livi Zheng) memutuskan pergi ke Amerika Serikat untuk mengubah nasib mereka. Namun sayangnya, mereka datang tidak secara resmi dan legal, alias menjadi imigran gelap. Di kampung halamannya, Ken dikenal sebagai pemuda yang jago beladiri, sedangkan saudara perempuannya, Alice dikenal sebagai pelukis yang handal. 
 
Setibanya di Negeri Paman Sam, Ken dan Alice selalu kucing-kucingan dengan kepolisian setempat. Untungnya, mereka bertemu dengan wanita baik hati pemilik sebuah restoran, Elizabeth (Stephanie Hilbert). Ia mengizinkan Ken dan Alice untuk bisa tinggal dan makan gratis di tempatnya untuk sementara waktu. Di sisi lain, untuk bisa mendapatkan uang sendiri, keduanya mencoba mencari uang di pasar dengan menjual lukisan buatan Alice dan menampilkan atraksi bela diri. 
 
Brush with ...
 
Atraksi tersebut ternyata banyak menyita perhatian pengunjung di sana. Mereka pun mulai mendapatkan pundi-pundi uang. Hingga suatu ketika datang seorang pemilik galeri lukisan, Justus Sullivan (Norman Newkirk) yang tertarik dengan bakat yang dimiliki Ken dan Alice. Khusus untuk Alice, Sullivan sangat terkesan dengan kemampuannya membuat ulang sebuah lukisan karya pelukis-pelukis besar. 
 
Oleh karena itu, Sullivan mengajak keduanya untuk bergabung di galerinya dengan iming-iming bayaran yang besar. Ken dan Alice pun akhirnya setuju dan bekerja untuk Sullivan. Hingga suatu ketika Alice diminta untuk membuat sebuah lukisan replika karya Van Gogh. Namun, Alice merasa ada yang tidak beres dan mulai mencurigai motif di belakang Sullivan sebenarnya. Ia mencium niat yang tidak baik dari pemilik galeri itu. 
 
Brush with ...
 
Cerita di atas adalah beberapa penggalan peristiwa penting yang mengawali film perdana karya Livi Zheng berjudul Brush with Danger. Film karya anak bangsa yang sudah tayang perdana di Hollywood ini pada dasarnya memiliki beberapa keunggulan yang layak diapresiasi. Terlebih lagi ini merupakan debut dari seorang perempuan muda asal Asia yang belum memiliki pengalaman penyutradaraan sebelumnya. 
 
Pertama, dari segi cerita, film ini terbilang cukup baik dan memiliki pesan yang jelas untuk disampaikan. Di titik ini, sebagai seorang debutan Livi berhasil setidaknya membuat storytelling yang baik. Dialog-dialognya pun cukup efektif, dalam arti tidak banyak line panjang yang melelahkan bagi Anda yang akan menontonnya. Sangat sederhana, tetapi tetap efisisen. Tidak ada yang tidak penting dalam dialognya.  
 
Brush with ...
 
Kedua, untuk kategori film drama action yang menampilkan adegan bela diri, Brush with Danger memiliki koreografi yang cukup baik dan rapi. Gerakannya pun cukup mulus untuk bisa memanjakan mata Anda melihat duel yang tidak hanya sekedar menampilkan adegan pukul memukul, tetapi juga memiliki teknik di dalamnya. Kredit layak diberikan kepada Ken Zheng yang paling banyak melakukan adegan bela diri di film ini. 
 
Atlet Wushu DKI Jakarta itu memang sudah memiliki dasar yang sangat baik untuk menjadi seorang aktor laga. Setiap gerakannya di dalam film sangat lugas dan meyakinkan. Tekniknya pun bisa dikatakan cukup baik untuk seorang aktor debutan di film layar lebar. Selain itu, meski memiliki postur tubuh yang pendek jika dibandingkan dengan aktor Hollywood, namun Ken mampu mengimbangi dengan keahlian bela dirinya. Sama halnya jika kita melihat kasus Jackie Chan dan Jet Lee. 
 
Brush with ...
 
Ketiga, untuk soal akting, harus diakui jika aktor-aktor Hollywood yang ikut bermain, seperti Norman Newkirk, Nikita Breznikov dan Stephanie Hilbert tampil dominan. Akting mereka yang sudah matang menjadikan film debut Livi Zheng ini menjadi lebih hidup dari sisi dialog. Mereka mampu menampilkan karakter masing-masing dengan begitu meyakinkan dengan intonasi dan ekspresi wajah yang mumpuni. 
 

Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Sullivan kepada Alice dan Ken? Apakah keduanya berhasil bertahan hidup di Amerika Serikat?