Susu Nabati Bukan Susu
Sunday, 14 February 2016
Susu Nabati Bukan Susu

BERBAGAI cairan putih dari olahan produk nabati sering dianggap sebagai susu. Padahal, bila dilihat dari kaca mata seorang ahli gizi, susu nabati tersebut bukanlah susu, melainkan ekstraksi.

"Soya ya soya, almond ya almond. Produk yang sering dianggap pengganti susu itu bukanlah susu," papar Emilia Achmadi, seorang ahli gizi, di kawasan Jakarta Selatan.

Perlu diketahui, minuman yang bisa dikategorikan susu adalah cairan putih yang diproduksi dari kelenjar mamalia, seperti sapi dan kambing.

Memang, bila dihitung dari kandungan protein dan lemak yang ada di dalam kedua produk nabati itu bisa terbilang baik. Namun lanjutnya, kembali lagi pada basic, dimana tubuh manusia didesain untuk lebih sempurna mengolah dan menyerap berbagai asupan hewani ketimbang nabati.

"Kalau produk nabati bisa juga diserap dengan baik. Namun butuh waktu lebih lama. Sementara itu kalau dilihat kandungan nutrisinya, jelas susu nabati tidak bisa menggantikan susu segar (hewani-red)," tambah Emilia.

Misalnya saja untuk kandungan gula. Para penikmat susu tak perlu khawatir, karena kandungan gula ini termasuk gula alami dan tidak berbahaya bila dikonsumsi secara teratur.

Kemudian kadar lemaknya juga lemak bagus sebagai asupan energi. Begitu pula dengan protein yang terkandung di dalam susu segar yang bagus untuk pertumbuhan anak.

"Protein yang ada di dalam susu segar itu protein lengkap. Tidak ada yang menyamai kesempurnaan protein dari susu segar. Terlebih untuk anak-anak, ini bagus sekali," pungkasnya.

Begitu juga dengan kandungan kalsium. Memang, dalam susu nabati terdapat pula kandungan yang baik untuk tulang. Tapi jika dibandingkan dengan kalsium susu sapi dalam porsi yang sama. Susu sapi punya kandungan kalsium tiga kali lebih banyak ketimbang susu nabati.

"Bayangkan saja, misalnya untuk memenuhi kebutuhan kalsium. Peminum susu nabati harus minum tiga kali lebih banyak dibanding minum susu sapi. Kalau begini, bukannya sehat, yang ada malah asam urat. Jadi kuantitas tidak berarti kualitas," tutupnya.

(ndr)