Yoga Tingkatkan Memori Lebih Baik dari Latihan Otak
Friday, 13 May 2016
Yoga Tingkatkan Memori Lebih Baik dari Latihan Otak

YOGA tidak hanya baik untuk tubuh, tapi juga membantu memori Anda juga, sebuah studi kecil menunjukkan. Bahkan, yoga dianggap memberi efek lebih baik bagi otak daripada latihan otak.

Penelitian ini melibatkan 25 orang dewasa usia 55 tahun ke atas yang memiliki gangguan kognitif ringan atau masalah dengan memori yang biasanya mendahului penyakit Alzheimer. Para peserta secara acak mengikuti kelas yoga dan meditasi atau latihan memori selama tiga bulan.

Pada akhir penelitian, kedua kelompok melihat perbaikan serupa dalam memori verbal, yang merupakan jenis memori yang digunakan ketika orang mengingat nama atau daftar kata-kata.

Tetapi mereka yang berlatih yoga memiliki perbaikan besar dalam memori visual-spasial, jenis memori yang digunakan untuk mengingat lokasi dan navigasi saat mengemudi. Kelompok yoga juga alami penurunan gejala depresi dan kecemasan lebih besar dibanding kelompok yang mengikuti latihan otak.

Latihan yoga di Kundalini yoga yang diikuti peserta studi melibatkan latihan pernapasan, menyanyi, meditasi, gerakan tangan, dan visualisasi cahaya. Peserta dalam kelompok ini juga diberi tahu untuk berlatih mediasi nyanyian yang disebut Kirtan Kriya di rumah selama 20 menit setiap hari.

Sementara, kelompok yang melakukan latihan memori setiap minggu belajar keterampilan untuk meningkatkan memori mereka, seperti belajar bagaimana untuk mengasosiasikan gambar atau kata-kata tertentu dengan wajah dan nama orang untuk mengingat mereka lebih baik.

Jenis yoga yang dipraktekkan dalam penelitian ini dianggap dapat meningkatkan memori karena melibatkan nyanyian dan visualisasi, yang dapat memperkuat kemampuan verbal dan visual tertentu, dan juga meningkatkan kesadaran dan fokus, kata para peneliti.

Peneliti juga mengatakan bahwa berlatih yoga dapat meningkatkan produksi protein yang disebut sebagai faktor pertumbuhan neurotropik yang diturunkan dari otak, yang merangsang pertumbuhan koneksi antara neuron atau saraf, kata para peneliti.

Namun, karena studi baru tersebut terbilang kecil, peneliti mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut perlu dilakukan dalam kelompok yang lebih besar dari orang-orang untuk mengonfirmasi temuan mereka, kata para peneliti seperti dilansir dariFoxnews, Jumat (13/5/2016).

(okezone/hel)