Bahaya di Balik Penyalahgunaan Obat Batuk
Wednesday, 22 June 2016
Bahaya di Balik Penyalahgunaan Obat Batuk

JAKARTA - Belakangan ini, beberapa jenis obat batuk disalahgunakan fungsinya dengan maksud mendapatkan efek tertentu dari obat tersebut. Tahukah Anda bahaya apa yang akan timbul akibat tindakan ini? Berikut info medisnya.

Beberapa waktu lalu kita kembali dikejutkan dengan sebuah berita penarikan beberapa merek obat batuk yang dijual bebas di pasaran. Sebenarnya, fenomena apa yang mendasari hal ini?

Perlu diketahui, kasus obat batuk ini memang sudah beberapa kali membuat heboh dunia kesehatan. Pasalnya, terdapat beberapa obat batuk yang disalahgunakan dari fungsi yang sebenarnya. Obat yang sering disalahgunakan ini dikenal dengan sebutan dextromethorphan (DMP).

Dextromethorphan (DMP) banyak diberikan dalam bentuk sediaan sendiri maupun campuran dalam sirup untuk menekan refleks batuk, terutama batuk kering. Obat ini merupakan obat bebas yang banyak digunakan sebagai pereda gejala flu dan batuk. Seperti yang kita ketahui, obat bebas artinya dapat dibeli di mana saja dan tanpa membutuhkan resep dokter.

Pada dosis rendah, dextromethorphan (DMP) memang bekerja pada reseptor opioid untuk menekan pusat batuk, sesuai dengan efek yang diharapkan dari obat ini dalam mengatasi batuk dan flu.

Namun, beberapa pihak menyalahgunakan obat ini dengan mengunakannya dalam dosis yang besar dengan harapan munculnya efek halusinasi dari obat tersebut. Efek halusinasi merupakan kondisi munculnya efek perubahan persepsi terhadap objek, situasi, pikiran, dan perasaan sekitar, di mana apa yang terlihat nyata sebenarnya tidak nyata.

Efek halusinasi yang timbul pun bertahap, sesuai dengan dosis yang digunakan. Ternyata bukan hanya efek halusinasi saja yang dapat muncul, namun juga efek berbahaya yang dapat mengancam nyawa.

Sebuah laporan kasus menyebutkan bahwa seorang pasien yang mengonsumsi dextromethorphan (DMP) dalam jumlah banyak dan tidak wajar mengalami penurunan kesadaran, peningkatan tekanan darah hingga 177/113 mmHg, peningkatan suhu tubuh, dan peningkatan denyut jantung hingga 128 kali per menit. Pada kasus lain bahkan ada yang langsung mengalami penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba.

Faktanya, penggunaan dextromethorphan (DMP) dalam dosis berlebih memang terbukti dapat menyebabkan efek samping atau toksisitas serotonergik, yakni efek yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah (hipertensi), peningkatan denyut jantung (takikardi), peningkatan suhu tubuh (hipertermia), perubahan status mental kesadaran, dan timbulnya refleks otot yang tidak normal, terutama di bagian tubuh bagian bawah

Penyalahgunaaan dextromethorphan (DMP) bukan saja terjadi di Indonesia. Sebuah jurnal tahun 2014 menyebutkan bahwa penyalahgunaan dextromethorphan (DMP) meningkat sejak tahun 2006, dengan perkiraan 1 juta orang pengguna yang berusia antara 12-25 tahun di Amerika Serikat.

Pada kasus tersebut, sebanyak 6000 kasus di antaranya mengalami kondisi parah yang harus ditangani ke ruang gawat darurat. Selain itu, jurnal tersebut juga menyebutkan bahwa media sosial dan internet merupakan media penyebaran informasi yang berperan penting dalam penyalahgunaan kasus dextromethorphan (DMP) ini.

(okz/amr)