Wanita Berpenghasilan Lebih Besar Dari Suami, Amankah?
Tuesday, 10 January 2017
Wanita Berpenghasilan Lebih Besar Dari Suami, Amankah?

Umumnya, suami berperan sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangga. Dan Steven Nock, seorang sosiologi dari Universitas Virginia mengatakan, para istri akan merasa bahagia dengan pernikahannya saat suami berperan sebagai pencari nafkah utama.

Dan hal ini merupakan gambaran sebuah pernikahan yang banyak terjadi di masyarakat. Namun bagaimana bila kenyataan yang Anda hadapi justru sebaliknya? Yakni penghasilan Anda sebagai istri justru jauh lebih besar dari gaji suami Anda, dan bahkan Anda lah tulang punggung ekonomi dalam rumah tangga. Mungkin sulit bagi Anda dan juga suami menerima kondisi ini, hingga tak sedikit pasangan yang kemudian jadi kerap bertengkar karena hal ini. Bahkan ada lho, pasangan yang kemudian bercerai karena sama-sama tak dapat menerima kondisi ini di dalam pernikahannya.

“Kunci keharmonisan rumah tangga dengan posisi istri sebagai bread winner (tulang punggung keluarga) adalah komunikasi,” terang Suzanne Baldwin, terapis pernikahan asal Virginia. Walau tak mudah, namun trik ini akan dapat membantu menjaga keharmonisan rumah tangga Anda. Dan bentuk komunikasi yang dimaksud disini adalah dengan:

1. Saling mendengarkan

Ego pria yang tinggi tentunya membuat harga dirinya sebagai seorang pria terganggu. Walau bagaimanapun para pria sadar kok Mams, kalau posisinya sebagai lelaki dan kepala keluarga memang seharusnya menjadi penopang ekonomi keluarga.

Perasaan rendah diri tentunya akan selalu menghantuinya. Bila ini yang terjadi di dalam rumah tangga Anda, maka selain harus berbesar hati untuk menerimanya, Anda juga harus berusaha meyakinkan dirinya bahwa uang bukanlah alasan utama kenapa Anda bersedia menikah dengannya. Walau uang merupakan hal yang penting, namun itu bukanlah satu-satunya hal yang bisa jadi pengikat cinta Anda dengannya.

Komunikasikan pula padanya, bahwa kewajibannya sebagai suami, papa dari anak-anak, dan kepala rumah tangga, bukan hanya dalam pemenuhan materi saja, namun masih banyak hal lainnya. Seperti perhatian, kasih sayang, dan sebagainya.

Dan sebagai penyokong ekonomi keluarga, hilangkan rasa egois Anda. Jangan sampai kondisi ini kemudian membuat Anda jadi merasa lebih punya ‘power’ lebih dari suami. “Jangan pernah uang menjadi alasan bagi Anda untuk kemudian bisa menguasai suami. Tetaplah menghormati dan mendengarkan pendapatnya,” saran Baldwin.

2. Berbagi peran

Gaji yang besar biasanya juga diikuti dengan kesibukan yang tinggi dan sangat menyita waktu. Sebaliknya, mungkin suami lebih memiliki banyak waktu luang daripada Anda. Untuk menghindari konflik dalam rumah tangga, sebaiknya Anda dan suami berdiskusi tentang pembagian tugas yang jelas. Cara ini akan mencegah salah satu pihak merasa terbebani untuk urusan rumah dan keluarga. Tak perlu segan untuk menuliskan bersama tentang daftar pekerjaan yang harus Anda dan suami kerjakan. Dengan saling berdiskusi untuk membicarakan ini, maka Anda dan suami akan sama-sama puas dengan hasil pembagian tugas yang ada.

Shot of a young couple relaxing on a sofa at homehttp://195.154.178.81/DATA/i_collage/pu/shoots/804608.jpg

3.Luangkan waktu khusus 

Walau Anda lah yang memiliki penghasilan lebih besar, bukan berarti kemudian Anda juga yang lebih cermat dalam mengatur keuangan bukan? Bila Anda merasa kesulitan dalam mengurus keuangan keluarga, ingatlah bahwa Anda memiliki pasangan yang bisa diajak berdiskusi untuk mencari solusi. Luangkan waktu khusus bersama dengannya untuk membahas masalah keuangan yang ada. Lakukan perbincangan ini di saat yang relaks dan tidak sedang membahas topik lainnya.

 

 

Source