Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?
Saturday, 02 September 2017
Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Imuniasasi (yang juga dikenal dengan istilah vaksin) sangat efektif untuk mencegah penyakit menular. Namun, dalam beberapa kasus imunisasi juga bisa memberikan efek samping tertentu. Efek samping ini sering kali membuat orangtua takut memberikan anaknya imunisasi. Nah, penting bagi Anda untuk mengetahui apa saja efek samping imunisasi yang mungkin terjadi agar Anda tidak takut lagi untuk mendapatkan imunisasi.

Efek samping imunisasi

Imunisasi atau vaksin, layaknya obat-obatan lain, memang memiliki efek samping. Akan tetapi, efek samping yang serius jarang sekali terjadi. Pada umumnya imunisasi hanya akan menimbulkan efek samping ringan dan akan hilang sendiri dalam waktu beberapa hari. Jadi, Anda tidak perlu khawatir. Risiko munculnya efek samping imunisasi jauh lebih rendah dibandingkan dengan risiko kena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah oleh imunisasi.

Setiap imunisasi memiliki efek sampingnya masing-masing. Namun, efek samping yang paling umum di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Nyeri pada lokasi suntikan

Anda mungkin merasakan nyeri di bagian yang disuntik. Akan tetapi, hal ini wajar dan tidak membahayakan. Nyeri saat disuntik bisa dihindari dengan cara menggenggam bola karet, boneka, atau benda lembut lainnya.

Anda juga dapat mengecoh pikiran Anda sendiri dengan membayangkan Anda akan disuntik di bagian tubuh lain, bukan di lengan atau paha seperti seharusnya. Hal ini akan membantu Anda mengalihkan perhatian dari rasa sakit di bagian tubuh yang benar-benar disuntik. 

2. Fobia jarum suntik

Anak atau orang dewasa bisa mengalami fobia terhadap jarum suntik sebagai salah satu efek samping imunisasi. Meskipun jarang terjadi, beberapa orang yang mengidap fobia jarum suntik bisa pingsan.

Bila Anda atau anak Anda mengalami fobia jarum suntik, diskusikan dulu dengan tenaga kesehatan yang akan memberikan imunisasi supaya mereka bisa mencegah pasien imunisasi pingsan.  

3. Timbul kemerahan dan bengkak pada lokasi suntikan

Setelah pemberian imunisasi, mungkin saja timbul reaksi seperti seperti kemerahan, bengkak, dan memar pada bagian tubuh yang disuntik. Tenang, kompres dingin dapat membantu meringankan rasa tidak nyaman serta mengurangi pembengkakan yang muncul pada lokasi suntikan imunisasi.

Reaksi tersebut bisa muncul pada satu dari empat anak yang mendapat imunisasi. Gejala-gejala ini akan muncul setelah pemberian imunisasi dan akan hilang sendiri dalam waktu satu hingga dua hari.

4. Gejala seperti mau sakit flu

Setelah diberikan imunisasi, Anda atau si kecil mungkin mengalami gejala-gejala seolah Anda terinfeksi virus flu. Gejalanya antara lain:

  • Demam ringan
  • Sakit maag
  • Muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Sakit kepala
  • Lemas dan pegal-pegal

Imunisasi bekerja dengan meniru cara kerja infeksi. Karena itu, imunisasi kadang memberikan efek seolah-olah tubuh Anda terinfeksi suatu virus. “Infeksi” ini tidak menyebabkan penyakit, justru akan melatih tubuh untuk membangun kekebalan terhadap penyakit.

Kapan harus ke dokter?

Efek samping imunisasi yang serius memang sangat jarang sekali terjadi. Akan tetapi, dalam kasus yang langka, seseorang bisa saja mengalami hal-hal di bawah ini. 

  • Reaksi alergi parah atau anafilaktik yang ditandai dengan kesulitan bernafas dan tekanan darah turun.
  • Kejang.
  • Demam tinggi.
  • Nyeri sendi atau otot kaku.
  • Infeksi paru-paru.

Jika Anda atau anak menunjukkan tanda-tanda efek samping serius seperti diatas atau Anda khawatir, segera cari bantuan medis darurat atau periksa ke dokter.

Jadi, apakah imunisasi aman bagi anak dan orang dewasa?

Sangat dianjurkan bagi Anda atau anak Anda untuk mendapatkan imunisasi. Pasalnya, efek samping imunisasi biasanya hanya efek samping ringan yang dapat diatasi di rumah, sedangkan efek samping serius jarang sekali terjadi. 

Selain itu, imunisasi sudah dinyatakan aman dan selalu diawasi oleh berbagai badan resmi di Indonesia. Di antaranya yaitu Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM).

 

Source