Dampak Negatif Ketika Memaksa Anak Untuk Mencium
Friday, 22 September 2017
Dampak Negatif Ketika Memaksa Anak Untuk Mencium

Momen  hari besar atau liburan sekolah sering dipakai untuk mengunjungi saudara, entah itu kakek, nenek, paman, bibi, atau keluarga lainnya. Saat pertemuan sering kali orang dewasa mengharapkan kecupan sweet dan pelukan hangat dari anak-anak yang mereka rindukan.

Namun, haruskah anak-anak dipaksa melakukannya? Bahkan ketika mereka sedang tak ingin menunjukkan kasih sayang? Untuk menghilangkan perasaan tidak enak, sering kali orangtua mendesak si kecil melakukan kontak fisik itu.

Padahal, batasan kontak fisik harus diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Sebuah artikel dari CNN berjudul I Do not Own My Child's Body membahas pertanyaan-pertanyaan seputar fenomena ini.

Katia Hetter yang merupakan penulisnya menegaskan, memaksa anak menyentuh orang-orang ketika mereka tidak ingin, membuat mereka rentan terhadap pelaku seksual, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang diketahui sebagai anak-anak yang sembrono (dibiarkan melakukan kontak fisik sembarangan).

Jika diasumsikan bila memberi Nenek ciuman di pipi berhubungan dengan pelecehan seksual terhadap seorang anak mungkin tampaknya gila, padahal hal itu sah-sah saja. Tapi Nichole salah satu orangtua di Amerika Serikat merasa ada kolerasi yang dibuat Hetter masuk akal. 

"Itu berarti orang dewasa telah melanggar zona kenyamanan anak-anak. Sehingga mereka belajar menerima orang ke tempat yang tidak nyaman itu," seperti dilansir Popsugar, Rabu (20/9/2017).

Senada dengan Nichole, Lisa E juga setuju, dan membagikan cara bagaimana dia mengajar anaknya sendiri tentang menghargai tubuhnya dan ruang fisik sendiri.

Hetter mengingatkan orangtua bahwa memaksa anak-anak untuk bersikap sayang saat mereka tidak ingin melakukannya sama saja mengajarkan menggunakan tubuh untuk menyenangkan orang lain yang menganggap dirinya berwenang.

"Kasih sayang seharusnya tidak pernah dipaksakan," tulisnya.

Selain mencegah penyalahgunaan, banyak ibu merasa penting untuk mencoba memahami bagaimana perasaan anak saat seorang kerabat menuntut kasih sayang fisik. 

Jenni D merujuk pada kenangannya sendiri saat masa kecil sebagai pedoman dalam mengasuh anaknya. "Sebagai anak kecil, saya tidak suka dipeluk atau dicium oleh banyak orang kecuali oleh ibu saya sendiri, dan saya benci ketika nenek saya memaksa untuk mencium saat berpamitan," curhatnya

Sebagai orang dewasa, ia suka mencium dan meringkuk ke anak-anaknya, tapi jika mereka sepertinya tidak menginginkan ia pun tidak memeluk atau menciumnya, Jenni akan menghormati sikap anak.

"Ciuman dan pelukan harus keluar karena seseorang merasa ingin memberi dan bukan karena mereka tertekan. Kasih sayang jangan pernah dipaksa," tukasnya.

 

Source