Membongkar 3 Mitos Sunscreen
Wednesday, 18 October 2017
Membongkar 3 Mitos Sunscreen

Rajin memakai sunscreen bukan hanya berfungsi mencegah penuaan dini, tetapi juga melindungi tubuh dari masalah yang lebih serius seperti kanker kulit. Meskipun risiko setiap orang terkena kanker kulit tentunya berbeda-beda (warna kulit, gaya hidup, dan faktor genetik juga punya peran) tetapi secara umum, kulit manusia butuh perlindungan dari sinar UV. Karena itu sunscreen selalu menjadi produk wajib dalam skincare routine Barat maupun Asia, meskipun “manfaat”-nya belum bisa dirasakan secara instan seperti pelembap atau obat jerawat.

SPF Cukup dari Makeup

Salah satu mitos yang paling banyak dipercaya orang, terutama buat yang hobi memakai BB cream, tinted moisturizer, atau bedak ber-SPF. Padahal, jumlah UV protection yang diberikan produk makeup ataupun pelembap nggak bisa disamaratakan dengan menggunakan dedicated sunscreen. Apalagi tentunya produk makeup ber-SPF yang dipakai nggak akan diaplikasikan tebal-tebal, terutama bedak tabur atau BB cream, jadi tentu perlindungannya pun belum maksimal. SPF dari makeup bisa berperan sebagai pelindung ekstra, tapi sebaiknya nggak digunakan sebagai pengganti sunscreen seluruhnya.

Physical Sunscreen Bikin Jerawatan

Pertama-tama, kulit acne-prone bisa sama-sama breakout dari physical maupun chemiclal sunscreen. “Tuduhan” utama pada physical sunscreen adalah karena teksturnya yang lebih padat dan tebal bisa berpotensi menyumbat pori-pori. Bisa jadi, proses membersihkannya yang selama ini nggak maksimal. Salah satu tips menggunakan physical sunscreen yang cukup thick adalah tentunya mengaplikasikan secukupnya, nggak perlu ditumpuk di kulit, dan fokus di area-area yang paling terpapar matahari.

Screen Shot 2017-06-21 at 10.07.26 AM

Di malam hari, jangan lupa gunakan oil cleanser untuk menghapusnya sampai bersih karena sunscreen memang diformulasikan untuk menempel di kulit. Untuk physical sunscreen yang teksturnya padat, micellar water aja kadang nggak cukup!

Chemical Sunscreen Merusak Cara Kerja Hormon

Memang ada satu studi yang menemukan bahwa oxybenzone, kandungan UV filter yang ada pada chemical sunscreen, bisa memicu aktivitas ekstrogen dan justru merilis radikal bebas yang berbahaya bagi kulit saat diujikan pada tikus. Ada juga yang menemukan sisa-sisa oxybenzone pada ASI, tetapi sama seperti penelitian tentang paraben yang kemudian banyak disalahartikan, sama sekali nggak ada kesimpulan bahwa oxybenzone berbahaya bagi kulit. Tapi, apakah adanya oxybenzone bisa mengganggu fluktuasi hormon secara signifikan? It’s a possible issue, tapi belum bisa dikonfirmasi 100% karena nggak ada studi yang benar-benar membuktikan benang merahnya.

 

Source